Pembantaian Tengah Malam

aurora
Lelaki bersenjata itu terus memuntahkan ratusan peluru ke arah ratusan penonton yang sedang menyaksikan film sekuel terakhir Trilogi Batman, “The Dark Knight Rises” di Bioskop Aurora, Colorado AS. Ia berlagak layaknya Joker yang hendak menghabisi musuh-musuhnya, membunuh tanpa ampun dan tanpa belas kasihan. Apa yang membuat pelaku melakukan aksi brutal tersebut? Apakah ini hanyalah kegilaan yang tak memerlukan alasan ataukah ada motif tertentu?

****

James Holmes memutar tombol pengatur suara tape di kamar apartemennya mendekati maksimal. Ia tak hirau jika hingar-bingar suara musik bisa mengganggu para penghuni apartemen lainnya yang tengah tertidur lelap. Padahal saat itu sudah menjelang tengah malam. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi menonton midnight show film “The Dark Knight Rises “.

Holmes memang penggemar serial superhero terutama Batman, sehingga ia tentu saja tak akan melewatkan pertunjukan perdana film tokoh idolanya tersebut yang malam ini akan diputar di Bioskop Aurora. Kamarnya pun dipenuhi aneka poster dan aksesori superhero bertopeng tersebut. Baca lebih lanjut

Suntikan Kematian

Tujuh anak yang dirawat di klinik Dr. Kathleen Holland di Texas, Amerika Serikat secara misterius mengalami gangguan napas  dan gagal jantung dalam waktu hampir berdekatan. Dua di antaranya meninggal dunia. Apakah ini sekedar malapraktik atau aksi kriminal yang direncanakan?

***

Kota Kerrville di Texas, Amerika Serikat, tahun 1982, adalah kota kecil yang berpenduduk belasan ribu orang saja. Di sini, Dr. Kathleen Holland mencoba peruntungannya dengan membuka sebuah klinik khusus anak.  Ia pun mempekerjakan beberapa perawat, salah satunya adalah perawat berpengalaman bernama Genene Anne Jones. Wanita berusia 32 tahun itu baru saja berhenti dari pekerjaan lamanya sebagai perawat di rumah sakit Bexar County Medical Center, San Antonio.

Dalam beberapa hari saja, klinik Dr. Kathleen sudah mulai mendapat kunjungan pasien. Warga mengaku senang dengan keberadaan klinik ini. Namun sejak dua bulan beroperasi, sebanyak tujuh anak yang dirawat  mengalami serangan kejang mendadak disertai gangguan napas dan jantung.

Tanggal 30 Agustus 1982, di ruang gawat darurat, Dr. Kathleen disibukkan dengan kondisi seorang pasiennya yang memburuk. Bayi Christopher Parker, empat bulan, mengalami gangguan napas. Tak lama berselang, masuk pasien anak lainnya, Jimmy Pearson,  lantaran mengalami serangan kejang. Jimmy, tujuh tahun, menderita keterbelakangan mental dan bisu. Melihat kondisi keduanya, Dr. Kathleen memutuskan untuk segera mengirim mereka ke rumah sakit lain dengan menumpang helikopter. Perawat Genene dan dua paramedis ditugasi mendampingi.

Di atas helikopter, Genene menyatakan bahwa Jimmy kembali mengalami serangan kejang. Meski menurut petugas paramedis yang bersamanya, alat monitor menunjukkan kondisi Jimmy saat itu normal.  Genene lantas memeriksa kondisi Jimmy dengan stetoskop, kemudian menginjeksi sejumlah cairan ke dalam tabung infus. Beberapa menit kemudian, Jimmy mendadak mengalami gangguan nafas dan gagal jantung. Syukurnya ia berhasil selamat. Namun tujuh minggu kemudian ia dilaporkan meninggal. Baca lebih lanjut

Novel Karya Gadis Psikopat

Tak ada anak yang terlahir ke dunia sebagai penjahat. Namun Kemi Adeyoola, puteri seorang milyuner di London, Inggris dianggap sebagai psikopat yang terlahir sebagai pembunuh. Dalam sebuah penggeledahan, petugas menemukan dokumen rencana pembunuhan di sel tempatnya ditahan.

***

Kemi Adeyoola adalah produk keluarga broken home. Kedua orang tuanya, Bola Adeyoola dan Mercuria, memutuskan bercerai di tahun keempat pernikahan mereka. Kemi beserta dua adiknya yang masih balita itu lantas ikut sang ibu.

Bola Adeyoola adalah seorang imigran asal Nigeria dan mantan petinju. Setelah menetap di Inggris, ia bekerja sebagai agen real estate dan menjadi seorang milyuner. Dalam kesepakatan perceraiannya, Bola memberi tunjangan sebesar £4 juta atau sekitar Rp 56 miliar untuk istrinya, Mercuria, wanita kelahiran Barbados, Karibia.

Pasca perceraian, Mercuria dan tiga anaknya  hidup berpindah-pindah di seantero Inggris, mulai dari Cheltenham, Peterborough, Gloucestershire hingga Golders Green. Meski hidup tak menentu,  kehidupan Kemi dan keluarganya relatif mencukupi. Kemi pun disekolahkan di sejumlah institusi pendidikan bergengsi seperti Stamford High School, Gloucestershire dan Wycliffe College atas pembiayaan sang ayah.

Meski kebutuhan materi relatif terpenuhi namun Kemi dan adik-adiknya kehilangan figur seorang ayah. Bola Adeyoola hanya sesekali terlihat mengunjungi keluarganya dengan mengendarai sedan mewah Rolls Royce-nya. Hubungan Bola dengan Kemi, baik berupa pesan ataupun uang, lebih banyak disampaikan melalui sang kakek.

Kemi kecil dikenang sebagai anak yang baik dan menyenangkan. Hingga saat usianya 11 tahun, Bola mengaku putus kontak dengan anak sulungnya itu. Mercuria membawa anak-anaknya pergi gara-gara pertengkarannya dengan Bola soal keuangan keluarga. Di usianya yang beranjak remaja itu Kemi mulai tersangkut perkara kriminal. Ia kerap mencuri barang-barang di sejumlah toko, lalu mengakali kuitansi pembelian untuk mendapatkan ganti rugi atas barang curian tersebut. Sasarannya adalah toko-toko kelas atas. Sampai pada suatu ketika, ia tertangkap basah dan terpaksa mendekam di penjara. Baca lebih lanjut